iden

 

Setiap anak berhak mendapatkan hak sipil, berupa akte kelahiran. Namun pada kenyataannya masih banyak anak yang kurang beruntung yang belum memiliki akte kelahiran. Padahal akte kelahiran menjadi prasyarat penting dalam setiap kegiatan : pendaftaran sekolah, pengurusan di Rumah Sakit, pengurusan jaminan, dll. Namun, jika anak tidak memiliki akte kelahiran maka anak akan mengalami kendala.

Salah satu contoh kasus adalah yang dialami anak di desa Natah, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Puput Mulyani (usia SD) hingga kini belum memiliki akte kelahiran. Kasus yang dialami adalah : ibunya meninggal dunia pada saat melahirkannya, sementara sang ayah tidak diketahui orangnya. Hal ini membuat kesulitan dalam pengurusan akte kelahirannya. Akhirnya dengan bantuan Sakti Peksos dan bekerjasama dengan P2TP2A Kabupaten Gunungkidul, dilakukan koordinasi dengan Dinas Dukscapil untuk bisa diproses akte kelahiran. Saat ini akte anak sudah jadi.

Contoh kasus lain adalah anak Muhammad Tama Pangestu (11 th) yang berada di wilayah padukuhan Jatisari, Sawahan, Ponjong. Hingga pertengahan th 2018 anak belum memiliki akte kelahiran. Hal ini mengakibatkan anak kesulitan dalam kepengurusan bantuan di sekolah (KIP) dan bantuan PKH. Kasus yang dialami anak: ayah tidak diketahui keberadaannya sejak kecil. Sang ibu yang seorang petani dan dari keluarga tidak mampu tidak paham bagaimana cara pengurusan akte. Pernah meminta tolong kepada “oknum” perangkat desa namun tidak juga berhasil, padahal sudah menyerahkan uang sejumlah 400.000. Akhirnya keluarga berputus asa dan menyerah.

Karena anak berada di wilayah dampingan LSM : SOS Children Village Yogyakarta, akhirnya pihak keluarga melalui salah satu tokoh masyarakat meminta bantuan educator (pendamping) wilayah tersebut. Didampingi Sakti Peksos, educator SOS Children Village, perwakilan tokoh masyarakat berkoordinasi dengan Dinas Dukcapil. Hasil koordinasi : disampaikan syarat-syarat kepengurusan akte dan oleh pihak keluarga dan dengan pendampingan dipenuhi. Saat sekarang akte sudah jadi.

Puput dan Tama hanyalah sekian dari anak-anak Gunungkidul yang bermasalah dalam kepengurusan aktenya, dan beruntung mendapatkan pendampingan. Namun, masih banyak anak dari keluarga-keluarga “bermasalah” yang belum bisa berproses akte kelahirannya. Akankah anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung ini juga akan kesulitan memperoleh hak sipilnya. Dimana andil pemerintah, khususnya dinas terkait yang selalu menggembar gemborkan untuk pemenuhan hak anak, jika hak sipil anak-anak saja terkendala.