iden

Anak berdasarkan kriteria UNICEF adalah penduduk yang berusia antara 0 sampai dengan 18 tahun. Pada usia antara 0-18 tahun, anak mengalami masa perkembangan dan tidak jarang mengalami kerentanan yang dapat mengganggu perkembangan secara psikologis dan sosial. Salah satu contoh kerentanan terhadap anak adalah anak seringkali menjadi korban kekerasan dari orang dewasa yang terdiri dari orang tua, saudara atau orang sekitarnya. Orang tua, saudara, ataupun orang dewasa di sekitarnya memiliki konsep bahwa anak adalah hak milik yang dapat diperlakukan sewenang-wenang termasuk mendapat pukulan, hujatan ataupun bentuk kekerasan lain.  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa kekerasan pada anak di lingkungan tempat tinggal, sekolah dan aktivitas bermain meningkat signifikan setiap tahunnya. Hasil ini diperoleh dari data pemantauan KPAI dari tahun 2011 hingga 2014 tentang kasus kekerasan pada anak. Tahun 2011 tercatat 2178 kasus, 2012 tercatat 3512 kasus, 2013 tercatat 4311 kasus dan 2014 tercatat hingga 5066 kasus.

Sekretaris Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Kanya Eka Santi mengatakan bahwa yang termasuk persoalan yang dihadapi anak Indonesia saat ini adalah pornografi online. Ia menyebut 90 persen anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun, 1.022 anak menjadi korban pornografi online 2011-2014, 25 ribu aktivitas pornografi anak di internet setiap harinya, dan 299.602 IP Indonesia memuat konten pornografi anak via media sosial. 

Brontokusuman adalah nama salah satu kelurahan yang ada di wilayah kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, DIY. Kelurahan ini  memiliki luas milayah 0.93M2 dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 23. Jumlah penduduk usia 0 sampai dengan 18 tahun sejumlah 4374 yang terdiri dari 2336 laki laki dan 2398 perempuan. Kelurahan Brontokusuman berlokasi di Jalan Sisingamangaraja No. 21 Yogyakarta 55153 dengan nomor telepon 0274-418575.

Kasus-kasus kekerasan terhadap anak juga terjadi di wilayah Brontokusuman, baik berupa bullying, percobaan bunuh diri,  pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga. Dari banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan persoalan pornografi online, menunjukkan bahwa keluarga, lingkungan sekitar, sekolah dan masyarakat belum mampu memberikan perlindungan yang memadai kepada anak. Situasi yang tidak memadai ini perlu mendapatkan respon.

Untuk itulah Kelurahan Brontokusuman membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), yaitu sebuah gerakan dari jaringan atau kelompok warga pada tingkat masyarakat yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan perlindungan anak. PATBM merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dengan membangun kesadaran masyarakat agar terjadi perubahan pemahaman, sikap dan perilaku yang memberikan perlindungan kepada anak. Pengurus PATBM Kelurahan Brontokusuman terdiri dari 20 orang yang terdiri dari berbagai unsur masyarakat.