iden

Jambi, 02-04 Mei 2019

Kegiatan Peningkatan Kapasitas bagi Aktivis PATBM dalam Perlindungan Anak Penyandang Disabilitas di hari pertama diisi oleh salah satu pakar penyandang disabilitas sebagai narasumber, yaitu Ibu Eva Rahmi Kasim. Ibu Eva mengajak peserta berdiskusi mengenai mindset yang dimiliki peserta terkait perlindungan anak penyandang disabilitas. Ibu Eva membuka diskusi dengan menampilkan video-video terkait cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak penyandang disabilitas. Diskusi dimoderatori oleh Ibu Indrawati, S.Sos selaku kepala bidang perlindungan anak penyandang disabilitas dan psikososial.

Video pertama yang ditampilkan Ibu Eva untuk membuka diskusi adalah video berjudul “Talk to Me: Physical Disability Awareness”. Video tersebut menampilkan kehidupan seorang anak dengan cerebral palsy di lingkungan sosial di mana anak tersebut sangat jarang diajak berkomunikasi langsung oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang cenderung akan bertanya pada orang tua atau pendamping anak yang bersangkutan jika ingin menanyakan sesuatu mengenai anak tersebut.

Melalui video pertama, Ibu Eva ingin membuka pandangan baru bagi para aktivis PATBM bahwa dengan diberikan fasilitas dan terapi yang baik, anak dengan cerebral palsy pun bisa diajak untuk berkomunikasi langsung. Anak penyandang disabilitas juga harus diajak berinteraksi layaknya anak lainnya, sehingga kemampuan sosialnya juga bisa berkembang.

Diskusi dilanjutkan dengan menampilkan video kedua dan ketiga. Video kedua berjudul “Helping Children with Disability” yang mengisahkan kehidupan inklusif yang dijalani anak-anak penyandang disabilitas di salah satu sekolah di India. Dalam video ditunjukkan bagaimana teman-teman dari anak-anak penyandang disabilitas tersebut sangat kooperatif dalam membantu teman-temannya dalam pergaulan di sekolah. Anak-anak penyandang disabilitas juga diberikan wadah dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka secara seimbang dengan anak-anak lainnya. Pemutaran video dilanjutkan dengan video ketiga yang berjudul “Cara Berinteraksi yang Beretika dengan Disabilitas Daksa”. Dalam video tersebut dijelaskan bagaimana cara kita membantu seseorang dengan disabilitas daksa agar tidak justru berbalik merugikan diri mereka.

Pada diskusi kedua, banyak ditemukan penggunaan kata “anak normal” dan “anak cacat” dari para peserta. Ibu Eva kemudian memberikan pandangan mengenai pemilihan kata ini, bahwa pada konteks anak penyandang disabilitas tidak ada batasan terhadap kondisi normal dan tidak normal. Yang ada hanyalah perbedaan fungsi jika dibandingkan dengan anak lainnya sehingga mindset normal dan tidak normal perlu dirubah untuk memberikan kondisi lingkungan yang suportif bagi anak penyandang disabilitas.