iden

Regional Barat

 

 

Pada saat ini masih ada anak anak di desa Gilangharjo yang belum mempunyai akte kelahiran ,dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua akan pentingnya akte kelahiran sebagai identitas anak . Oleh karena itu masih di butuhkan adanya sosialisasi kepada masyarakat oleh DISDUKCAPIL . Agar hak sipil anak bisa terpenuhi dan anak –anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal jikalau semua hak – haknya terpenuhi , karena dengan tidak adanya akte kelahiran bagi seorang anak itu akan  menghambat kegiatan anak terutama dalam masuk sekolah .

 Sebagai tindak lanjut hal tersebut di atas kami selaku aktifis PATBM desa Gilangharjo berupaya membantu memfasilitasi untuk terlaksananya sosialisasi tentang akte kelahiran . Dan kami juga berupaya untuk bisa membantu mengurus pembuatan akte kelahiran terutama bagi anak – anak yg bermasalah dengan kelengkapan syarat – syarat administrasi . Misalnya anak yang di telantarkan orang tuanya dan sama sekali tidak mempunyai identitas seperti surat kelahiran . 

12.00

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} . 12.00

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sebut saja namanya Bunga, ketika masih duduk di kelas 3 SMP bunga ( 15 Th ) sudah mempunyai Pacar ( R ) dua remaja sudah berpacaran kurang lebih 6 bulan dan keduanya sudah sering melakukan hubungan layaknya suami istri.

Seiring berjalannya waktu akhirnya karena sesuatu hal Bunga minta putus dengan R, namun demikian R tidak mau dan terjadilah kekerasan terhadap bunga dan akhirnya kedua remaja tersebut memutuskan untuk berpisah, selang beberapa waktu kemudian bunga lulus SMP dan mendaftarkan sekolah ke sebuah SMK swasta yang cukup terkenal, dan bungan bertemu dengan B. Keduanya berpacaran. Namun demikian ternyata diketahui bahwa bunga hamil dan yang mengahmili adalah pacar lamanya yaitu R.

Setelah ketahuan bunga hamil B menemui R untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan kepada Bunga, dan R bersedia untuk bertanggung jawab untuk menikahi bunga namun demikian bunga tidak mau dan bunga maunya dinikahi oleh B, akan tetapi orang tua B tidak mengijinkan B untuk menikahi bunga dengan alasan B masih sekolah dan B tidak melakukan hubungan suami istri dengan bunga.

Kemudian hal itu oleh orang tua bunga dilaporkan dan dikonsultasikan ke PATBM Desa kembang dan dimediasi oleh Aktifis PATBM baik keluarga Bunga maupun Keluarga R, keluarga R tetap pada pendiriannya bahwa R bersedia untuk bertanggung jawab menikahi bunga akan tetapi bunga tidak bersedia menikah dengan R dengan alasan sudah tidak mencintai R dan bunga minta dinikahi oleh B namun keluarga B tetap tidak mengijinkan B menikah dengan bunga.

Setelah melewati mediasi akhirnya bunga tetap akan mempertahankan kemalinnya tanpa dinikah oleh R dan Keluarga R bersedia menanggung biaya periksa dan kelahiran serta biaya hidup dari anak yang kelak akan dilahirkan oleh bunga dan dibuatkan surat perjanjian oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh kedua belah keluarga besarnya.

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:-1.15pt; mso-para-margin-bottom:6.0pt; mso-para-margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Dalam rangka mendukung Kota Layak Anak, Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 2018 ini membentuk 10 Forum Anak di Kelurahan. Forum anak merupakan wadah menyampaikan aspirasi dan partisipasi anak dalam pembangunan. Pembentukan Forum anak juga mengakomodir hak anak yaitu hak berpartisipasi.

Dari 45 Kelurahan yang ada di Kota Yogyakarta sudah 40 Kelurahan yang memiliki Forum Anak Kelurahan. Mereka juga turut serta dalam proses Musrenbang. Kelurahan yang mendapat Fasilitasi Pembentukan Forum Anak Kelurahan tahun 2018 adalah Kelurahan Semaki, Prawirodirjan, Sosoromenduran, Terban, Bumijo, Patehan, Kadipaten, Kotabaru, Kricak  dan Kelurahan Gunungketur.

Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari melaksanakan Upacara Adat Rasul Gubug Gedhe besok pada hari minggu pahing tanggal 01 juli 2018. Upacara Adat yang dilaksanakan pada setiap tahunnya ini adalah Upacara yang wajib dilaksanakan oleh warga Desa Ngalang setelah musim panen kedua selesai dilaksanakan. Upacara Adat yg lebih dikenal dengan Rasulan Gubug Gedhe ini telah masuk didalam kalender budaya di Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul dn juga Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum dilaksanakanya kegiatan tersebut, Panitia yang bekerjasama dengan Pemerintah Desa Ngalang mengadakan gelar potensi budaya. Potensi yang dipentaskan di Lapangan Gubug Gedhe mulai sabtu malam tanggal 23 juni 2018 sampai hari jum'at malam tanggal 29 juni 2018 ini merupakan potensi kebudayaan yang ditampilkan dari ke-14 Padukuhan di Desa Ngalang. Pementasan ini merupakan potensi budaya yang dimiliki Desa Ngalang meliputi Reog, Jathil, Sendra Tari, Rebana serta Drama Kolosal.

Pada acara Gelar Potensi Budaya tersebut Forum anak desa mencuri kesempatan untuk ikut eksis didalamnya. Yaitu dengan mengadakan Giat Literasi yang bekerjasama dengan Perpusdes Ngalang Membaca. Forum Anak Desa Ngalang mendirikan Stand yang strategis sehingga bisa menarik pengunnjung yang hadir dalam acara tersebut.

Stand Giat Literasi dibuka setiap malam selama Gelar potensi budaya dilaksanakan. Setiap malam FAD selalu bergantian untuk menjaga Stand tersebut. Dengan adanya Giat Literasi tersebut mempunyai tujuan untuk mendekatkan anak-anak,dan masyarakat Desa Ngalang untuk Giat Membaca.

 

 

Yogyakarta. Sebanyak 30 peserta mewakili  OPD  dan aktifis  PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) se DIY mengikuti “Pelatihan Sistem Database Perlindungan Anak Kelompok Minoritas dan Disabilitas” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI bekerjasama dengan BPPM Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel Tentrem, Kamis (1/11).

 

Deputi perlindungan anak berkebutuhan khusus KPPA dalam sambutanya yang diwakilkan oleh Nanang A. Rachman, S.Sos. M.Si selaku Asdep Perlindungan Anak Kelompok Minoritas dan Disabilitas, mengatakan, peran OPD dan aktifis PATBM dalam pengembangan informasi berbasis masyarakat terutama terkait dengan kelompok minoritas dan disabilitas menjadi perhatian bersama. "Dari pelatihan database yang dilakukan pertama kali di Yogyakarta ini akan mewarnai PATBM dalam memberikan informasi dan data kelompok minoritas dan disabilitas," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPPM DIY, dr. Arida Oetami, M. Kes, mengatakan, DIY secara umum tidak memiliki data terkait kelompok minoritas. “Selama ini  data kelompok minoritas ataupun disabilitas tidak terkumpul jadi satu. Data berada di OPD yang menangani langsung serta lembaga swadaya masyarakat,” terangnya dihadapan peserta pelatihan database.

Kegiatan yang pertama dilakukan di Yogyakarta ini berlangsung selama satu hari, peserta mendapatkan pelatihan dan praktek menulis sesuai kaidah jurnalistik dan komposisi pengambilan foto dari  komunitas Desatu Kreatif  sebuah komunitas bisnis kreatif digital sebagai pendamping pelatihan  yang didatangkan langsung oleh Kementerian PPA. Peserta pelatihan dari DIY nantinya juga akan ikut berpartisipasi mengisi konten terkait dengan issue dan akan ditampilkan dalam portal kementerianppa.go.id. (WN)